You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Singakerta
Desa Singakerta

Kec. Ubud, Kab. Gianyar, Provinsi Bali

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DESA SINGAKERTA - KECAMATAN UBUD - KABUPATEN GIANYAR - PROVINSI BALI

Sejarah Desa

Administrator 26 Agustus 2016 Dibaca 32 Kali
Sejarah Desa

 SEJARAH DESA SINGAKERTA

Timbulnya  desa pada mulanya dari kelompok-kelompok manusia kemudian terbentuk banjar dan akhirnya dari kelompok-kelompok banjar terbentuklah desa. Pada umumnya suatu daerah / banjar di Bali mempunyai sejarah tersendiri. Tidak jarang nama daerah dikaitkan dengan sejarahnya sendiri.

Demikian pula halnya desa Singakerta nama disini mempunyai kaitan sejarah tersendiri . Pada jaman terdahulu terdapatlah suatu desa yang bernama Karang Enjung yang terdapat di persawahan antara kelompok Banjar paling ujung Utara ( Banjar Katiklantang ) dengan Kelompok Banjar disebelah barat sungai Wos ( Banjar Danginlabak ) , nama ini diambil karena daerah tersebut menonjol disebelah barat pinggiran sungai Wos. Adapun Desa Karang Enjung adalah daerah kekuasaan Raja Mengwi . Untuk mengurus kelompok banjar ini ditempatkanlah seorang Pacek ( Pemimpin ) yang bernama I Gusti Tegal Kaja Kauh, yang merupakan keturunan Arya Pinatih Banyak Wide, dengan pangkat Perbekel.

Tersebutlah seorang pelarian yang bernama Cokorde Karang keturunan bangsawan Sukawati yang semula ditampung oleh I Gusti Ngurah Bija Bun yaitu pacek mengwi di Mambal.Karena pandai membawa diri maka dikawinkan dengan Ni Gusti Ayu Rai, anak dari Igusti Bija Bun. Berita tersebut didengar oleh Raja Mengwi yang kemudian memerintahkan Cokorde Bija Bun untuk menyingkirkan Cokorde Gede Karang , karena dianggap akan membahayakan Kerajaan nantinya. Bila perintah tersebut tidak dilaksanakan  maka ia akan dihukum mati. Perintah tersebut memang dilaksanakan melalui serangan yang berpura-pura, Cokorde Karang dengan Istrinya Ni Gusti Ayu Rai diloloskan kea rah timur laut yaitu kearah Desa Padang Tegal.Dari tempat inilah Cokorde Gede Karang bertemu dengan saudaranya Cokorde Batuan.Dari tempat inilah Cokorde Karang menyiapkan diri untuk mengadakan perlawanan terhadap Raja Mengwi.

Seperti tersebut diatas penguasa disebelah timur merasa iri terhadap penguasa Karang Enjung, maka dengan mudak Cokorde Karang mendapat pengikut, terutama dari Kerajaan Gianyar, dari Kerajaan inilah beliau mendapat bantuan dengan perjanjian bila menang nanti dalam peperangan maka semua wilayah Kerajaan Mengwi yang dapat beliau kuasai akan dihaturkan. Rasa dendam beliau semakin meluap-luap dengan adanya berita bahwa mertuanya I Gusti Ngurah Bija Bun melarikan diri karena dikepung oleh Raja Mengwi.Hal ini terjadi karena siasat I Gusti Ngurah Bija Bun terbongkar yaitu sewaktu diperintahkan mengusir Cokorde Karang, beliau berpura-pura mengadakan serangan. Selanjutnya I Gusti Ngurah Bija Bun menetap di Banjar Bun ( Kabupaten Badung ).

Pada saat yang baik berangkatlah Cokorde Karang dengan pengikutnya menyerang Kerajaan Mengwi, Beliau mulai bergerak di bagian timur yaitu mulai dari Desa Karang Enjung, yang pada saat itu didampingi oleh I Gusti Tegal Kaja Kauh, pada serangan ini tak mampu menghadapinya, sehingga melarikan diri menetap di Kubkub, sedangkan Cokorde Karang melanjutkan serangan kearah Barat, namun karena kerajaan Mengwi lebih kuat maka serangan Cokorde Karang dapat dipatahkan sampai di Semana Mengwi. Artinya sebagaian Wilayah Kekeuasaan Raja Mengwi dapat dikuasai oleh  Cokorde Karang berkat bala bantuan Raja Gianyar, Sehingga wilayah Semana dibagi dua Semana Mengwi masih kekuasaan Raja Mengwi dan Semana Gianyar daerah kekuasaan Raja Gianyar.sesuai perjanjian terdahulu. Sehingga dengan berpegangan pada perjanjian terdahulu timbul kearipan dan kebijaksanaan keharmonisan  ( Kerta ) artinya sejak keharmonisan kerajaan , kesejahtraan.keamanan,kekertan. Dengan demikian maka masyarakat menyebut wilayahnya sendiri “ SINGAKERTA “ artinya wilayah yang aman dan tentram. Jadi nama Singakerta timbul  karena penduduk itu sendiri.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2025 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp0 Rp1,460,733,000
0%

APBDes 2025 Pendapatan

Dana Desa
Rp0 Rp1,460,733,000
0%

APBDes 2025 Pembelanjaan